Keluar dari Zona Degradasi

degraBagaimana ragunya Dama masuk sekolah, begitu juga dengan ragunya dia tamat dari sekolah sanawiyah ini. Dama ragu dapat masuk sekolah ini karena perbedaan latar belakang sekolah yang dia alami. Dama merasa kemampuan juaranya di level Championship belum cukup untuk mengimbangi kawan-kawan yang sudah biasa bermain di level Premier League. Walaupun  selalu juara di Sekolah Dasar (SD) namun dia tidak dapat berbuat banyak di sanawiyah ini. Hasil belajar selalu berada di zona nyaman atau tengah-tengah, tidak baik dan juga tidak jelek. Untung amak Dama tidak terlalu mempermasalahkan tentang nilai. Bagi amak, kalau semua nilai sudah ditulis pakai tinta hitam atau hijau berarti semua aman atau on the track.

Di sekolah Dama adalah anak yang biasa saja dan juga bukan aktivis, satu-satunya kegiatan ekstra kurikuler yang diikutinya hanyalah  kegiatan pramuka. Untuk kegiatan satu ini tidak perlu diragukan, Dama sudah terbiasa mengikuti kegiatan ini sejak SD. Bahkan pernah diutus mewakili sekolah untuk mengikuti Jambore antar kecamatan bergabung dengan anggota dari sekolah lain. Membuat tandu atau mengayun-ayun kan tangan membuat sandi morse menggunakan bendera sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Seandainya amak juga mengerti dengan morse, maka surat untuk minta kirimin uang pasti akan ditulis dalam sandi morse. Kuburan cina di Bukit Ambacang adalah rute jalan malam yang tidak lagi menakutkan bagi Dama. Dia sudah terbiasa berjalan dalam kegelapan malam dalam kegiatan pramuka. Sedikit banyak masalah mental sudah cukup terlatih dengan baik, namun kalau masalah otak, mm…hehehe..sepertinya perlu latihan yang lebih keras lagi.

Soal asmara, wah kalau untuk urusan yang satu ini hasilnya setali tiga uang dengan prestasi sekolah Dama. Condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan perai.. eeh..ka nan lamak, itu sangat manusiawi sekali. Seorang gadis cantik dari kelas tetangga telah merasuk kepikiran Dama. Bisa jadi bukan yang paling cantik di sekolah ini tapi setidaknya bayangannya cukup cantik di sensor retina Dama. Hari demi hari bayanganya wajahnya semakin menggangu dan merusak konsentrasi belajar yang memang sudah rusak. Dengan sedikit keberanian Dama menyatakan apa yang dirasakannya pada gadis tersebut, tapi tidak dengan suara karena pita suaranya sedang mengalami masalah terjepit rasa malu. Selembar surat pernyataan bukan permintaan dilayangkan selepas sekolah ke gadis pujaan. Hari-hari berikutnya adalah hari yang mendebarkan dan tidak sabar ingin mengetahui  tanggapan atas surat penyataan tersebut.  Akhirnya hari itu datang jua, tapi yang diterima adalah surat keterangan. “Ma`af Dama, kita tidak bisa mempunyai hubungan saya sudah punya seseorang, mungkin kita sebaiknya berteman saja“. Opss…bumi gonjang-ganjing, lampu kelap-kelip perasaan Dama tidak karuan. Seiring hari berlalu akhirnya Dama dapat menerima dan yang paling penting ditolak bukan karena jelek atau bodoh tapi karena dia sudah punya setidaknya itulah yang dipikirkan Dama. Walaupun sebenarnya alasan penolakannya banyak sekali bahkan terlalu banyak selain dari yang disebutkan. Mungkin saja.

Sudah lah, itu sudah berlalu. Setidaknya Dama sudah menyelesaikan ganjalan hati dan tidak lagi memikirkanya. Sekarang Dama sudah bisa fokus untuk belajar karena selama ini Dama hanya rajin sekolah tapi tidak terlalu rajin belajar. Namun menurut Dama dia sudah mematuhi anjuran amak, “Rajin-rajin sakola“. Kenyataanya Dama memang jarang sekali absen datang ke sekolah, tapi untuk mempelajari hukum Newton belum selancar dan semenarik sandi morse bagi Dama. Atau ketangkasan Dama dalam menggunakan fi`il madhi dan fi`il mudhori` dalam bahasa arab belum selancar jalan Dama menembus kuburan cina dimalam hari. Untuk pelajaran lainya sebenarnya beberapa sudah bagus atau boleh dikatakan hanya kurang sa angin, tapi sayang kadang anginnya angin topan. Ya singkat cerita hampir semua pelajaran hasilnya so so atau dalam pepatah minang minyak abih samba dak lamak. Banyak waktu dan tenaga yang digunakan namun hasilnya tidak terlalu memuaskan.

Tak terasa waktu berlalu, sekarang Dama sudah berada di kelas 3 dan sudah mendekati masa-masa akhirnya di sekolah sanawiyah ini. Mau tidak mau Dama harus menambah porsi belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Namun apa daya, rencana ditangan kita keputusan ditangan tuhan dan Tuhan adalah sebaik-baik perencana. Ketidak teraturan pola hidup sudah menumbangkan Dama dan akhirnya harus direhabilitasi di rumah sakit karena penyakit tipus yang dideritanya. Hampir satu bulan tidak ada kegiatan yang dapat dilakukan Dama termasuk kegiatan belajar. Hari-hari dilalui dengan berbaring dan sesekali bercengkrama dengan keluarga, tamu dan teman yang datang berkunjung ke rumah sakit. Walaupun hanya anak yang biasa saja di sekolah namun Dama masih mempunyai beberapa teman yang peduli dan merekalah yang selalu memberi semangat dan motivasi. Bayang-banyang tidak akan lulus dari sekolah kadang melintas di depan mata. Ketidak hadiran selama satu bulan bukanlah pekara mudah bagi Dama untuk menguasai pelajaran yang telah lewat.

Setelah sebulan berlalu, walau dalam kondisi fisik yang belum stabil tapi Dama harus bersiap menghadapi ujian yang akan datang sebentar lagi. Tidak banyak pilihan dalam kondisi sulit ini, namun kondisi ini juga yang menyadarkan Dama. Berada dalam zona degradasi tentu tidak banyak pilihan yang dapat dilakukan. Pilihannya hanya dua, menyerah atau bertempur habis-habisan untuk keluar dari zona maut ini. Akhirnya pilihan Dama jatuh pada opsi kedua. Dimulailah pertarungan antara impian dengan kelelahan. Jika selama ini belajar hanya untuk nilai, maka saat ini belajar adalah untuk masa depan karena akan menentukan bisa melanjutkan sekolah atau tidak. Ternyata belajar dalam tekanan tinggi itu juga mengasyikan dan mengaburkan keraguan atas  kemampuan. Setumpuk fotokopi catatan teman selama satu bulan siap untuk dilahap dan di tulis kedalam kepala. Sedikit demi sedikit kepercayaan diri mulai tumbuh dan keyakinan atas keberhasilan mulai terpupuk. Kadang memang perlu kondisi ekstrim agar otak mau diajak kompromi. Begitu juga dengan ide-ide kreatif yang sering muncul dari masalah-masalah yang dihadapi.

Saat ini Dama sudah keluar dari zona nyaman belajar. Berhati-hatilah di zona nyaman. Saat berada di zona ini semua orang biasanya sering terlena, karena tidak ada tantangan. Teman Dama bilang kenapa kita harus kerja keras, kan ada lagunya, Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Tidak ada yang salah dengan syair Koes Plus itu, namun berbahaya jika diterjemahkan untuk tidak perlu bekerja keras dan berusaha karena semua sudah tersedia. Sakit yang diderita Dama sudah mengantarkanya keluar dari zona nyaman itu. Dan siapa yang mengira, kondisi ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi Dama, yaitu bagaimana harusnya selalu berpikir optimis dalam hidup.

Jadwal ujian pun akhirnya datang dan Dama sudah siap dengan usaha maksimal yang dia bisa lakukan. Satu persatu mata pelajaran diujikan dan Dama selalu bisa tersenyum keluar kelas. Kadang temanya heran dan bertanya, Kamu ujianya sukses ya ? dapat jawabanya semua ?. Dama hanya menjawab pendek `nggak` . Tapi kenapa kamu tidak pusing seperti kami. karena saya pusingnya kemaren, tapi tidak setelah ujian karena apapun yang kamu pikirkan tentang ujian yang telah lewat tidak akan merubah hasilnya. Kenapa kamu tidak memikirkan ujian untuk esok hari. Seperinya Dama sudah kerasukan setan bijak hari ini. Namun sejak itu cara berpikir Dama sedikit sudah berubah dari biasanya. Intinya adalah berusaha semaksimal mungkin dan lupakan hasilnya akan jadi seperti apa karena itu bukan lagi ranah kita dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk merubahnya. Dari pada memikirkan kegagalan hari ini yang akan mengganggu dan menggagalkan urusan berikutnya, kenapa tidak fokus pada persoalan lain yang masih ada kesempatan.

Habis sudah ujian untuk semua mata pelajaran. Saatnya menunggu hasil evaluasi dan mengetahu lulus atau tidak. Antara yakin dengan tidak, Dama masih berharap akan dapat hasil yang baik walaupun hampir sulit karena waktu belajar yang kurang dari teman-teman lainya. Namun siapa menyangka,  Dama selamat dari zona degradasi dan lulus dari sekolah ini, bahkan yang lebih mengejutkan adalah tidak hanya selamat dari zona degradasi tapi Dama juga dapat menembus liga eropa dan dapat bermain dikompetisi yang lebih tinggi. Ternyata bekerja dengan keyakinan hasilnya akan berbeda bila bekerja dengan keraguan dan ketidakpercayaan diri.

1190524322565709150613

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: