Memindah Benih

benihTanpa terasa sudah enam tahun saya belajar di sekolah dasar di kampung saya Dama Gadang. Banyak cerita dan kisah yang tidak akan terlupakan selama belajar di sekolah ini. Baik cerita belajar maupun cerita lain yang mengiringi setiap hari-hari saya ke sekolah sambil membawa jualan jagung rebus bercampur parutan kelapa yang dibungkus plastik dan terlilit di leher, atau membawa kentongan es jika hari cukup panas. Dan pada hari ini kisah itu akan mulai berubah karena detik-detik kelulusan anak kelas enam sudah hampir tiba. Berbagai pikiran dan rencana muncul di antara kami yang akan segera tamat, ada yang ingin sekolah ke SMP, Sanawiyah (MTsN) ada juga yang akan pergi ke kota ikut dengan saudara untuk bekerja dan bahkan ada yang memutuskan untuk tetap di kampung membantu orang tua. Tentu apa yang dipikirkan tidak lepas dari kondisi keluarga kami yang hidup di sebuah desa terpencil di sebuah kampung.

Tak terasa hari pengumuman kelulusan datang juga dan semua siswa kelas enam dinyatakan lulus dan disinilah cerita bermula. Amak sangat ingin saya melanjutkan sekolah kesekolah menengah. Sebenarnya bagi amak ini adalah dendam pribadi yang membara karena dulu dia tidak dapat menamatkan sekolah rakyat karena keterbatasan ekonomi dan cara pandang orang tuanya terhadap pendidikan. Karena itu amak tidak ingin anaknya bernasip sama dengan dirinya dan mengusahakan pendidikan minimal tamat SMA untuk anak-anaknya. Kalau dihitung-hitung, tamat SMA sudah jauh lebih tinggi dari pendidikan amak yang tidak tamat sekolah rakyat. Untuk itu amak miminta saya untuk  sekolah ke MTsN dengan alasan membangun fondasi yang bagus (pendidikan agama) adalah hal penting menurut padangan amak. Karena sejauh-jauh bangau terbang akan kembali ke kubangan, begitu juga menurut padangan amak, sesesat apapun hidup waang nanti suatu saat akan dapat kembali ke jalan yang benar kalau sudah mempunyai dasar. Setidaknya itulah dasar amak memasukan saya ke sekolah sanawiyah.

Sekarang tiba waktunya memilih sekolah. Tidak mudah memang, satu-satunya sekolah sanawiyah yang dekat dengan kampung saya ada di Lubuk Basung sekitar 2-3 jam perjalanan waktu dulu dari tempat saya atau saya harus menyewa rumah kos untuk sekolah di sana. Namun permasalah lain juga timbul, umumnya kawan-kawan yang sekolah di sana sering tidak melanjutkan sekolah lagi karena kuatnya pengaruh lingkungan dan alamnya yang berat kadang membuat malas untuk pergi sekolah. Akhirnya, amak memutuskan saya sekolah agak lebih jauh dari kampung untuk mejaga keinginan sekolah tetap menyala di hati. Kali ini sekolah yang dituju adalah MTsN 1 bukittinggi, yang merupakan sekolah favorit waktu itu, antara yakin dengan tidak untuk dapat diterima di sana amak menguatkan hati mengantarkan saya untuk ikut tes. Walau sedikit minder dan canggung sebagai anak kampung saya akhirnya menjalani tes di sekolah baru ini. Berkat doa amak yang tidak  pernah putus akhirnya pada hari pengumuman nomor tes saya muncul di papan pengumuman kelulusan.

Tidak seperti biasanya orang menyambut hasil kelulusan, bagi amak dan saya cukup sebuah senyum kecil sebagi rasa syukur atas apa yang kami dapatkan. Karena dalam pikiran amak kegembiraan sesaat sudah berganti dengan kecemasan yang lain bagaimana membiayai sekolah di sini nantinya. Namun layar sudah dikembang dan kapal harus belayar munkin itu lah yang ada alam pikiran amak waktu itu. Sementara saya yang belum banyak mengerti hanya mengikuti apa yang amak sarankan dan kebetulan saya juga menyukai suasana sekolah baru yang sangat jauh berbeda dari suasana sekolah di kampung. Walaupun saya sedikit cemas bagai mana bergaul dengan teman-teman yang memang sudah hidup di kota dan terbiasa dengan lingkungannya. Berbagai persiapan mulai dilakukan, mulai dari nasehat layaknya seorang anak mau merantau, cara memasak, cara berhemat jika uang kurang, bagaimana membagi sebuah telur jadi beberpa bagian itu adalah bagian dari materi pembekalan yang diberikan amak. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah masalah ibadah terutama shalat yang tidak boleh sampai tinggal kata amak.

Sedikit demi sedikit kegalauan amak mulai saya ketahui. Berawal dari kisah mencari rumah kos, dalam kondisi yang terbatas kami berdua menelusuri rumah-rumah penduduk untuk mencari tempat kos. Namun kami tentu punya kriteria utama, rumah yang kami tanyai adalah rumah sederhana dan tidak terlalu bagus karena kami tidak akan sanggup menyewanya. Setelah berkeliling akhirnya kami mendapatkan rumah yang sesuai dengan kesanggupan amak berada di Parak Bawah sekitar 700 m dari sekolah. Namun tidak ada fasilitas apa pun dalam kamar, lantai rumah hanya semen plasteran bukan keramik dan pada saat itu amak hanya membawa tikar plastik untuk alas tidur dan sebuah lemari kayu untuk menyimpan baju dan semua perlengkapan sekolah bahkan juga tempat sambal. Akhirnya melihat perlengkapan kos yang saya bawa, ibu kos mengizinkan kami membuat tempat tidur dari kayu bekas yang ada di halam rumahnya. Sesaat amak dan saya menjelma jadi tukang perabot yang ahli untuk menghasilkan sebuah tempat tidur. Tapi tidak sampai di situ keahlian kami diuji dengan kuranganya bahan, sehinggga dua kaki tempat tidur harus diambil langsung atau dipakukan ke tiang yang ada di kamar. Dalam beberapa jam jadilah sebuah tempat tidur ala kadarnya sekedar meninggikan tikar plastik dari latai yang dingin. Hari terus berlalu, namun semangat saya bersekolah masih bisa  membungkam keluh kesah dan waktu transisi pertama ini cukup berjalan dengan baik.

Beberapa bulan kemudian, ibu kos melakukan perombakan rumah dan akhirnya kamar saya harus dipindah, kebetulan saya satu kamar dengan anak ibu kos. Saya pindah ke kamar lain bersama anak Ibu kos, namun kali ini ceritanya sedikit beda. Tempat tidur kami kali ini bukan kasur kapas, angin, atau air tapi terbuat dari pasir. Ya… saya dan anak Ibu kos tidur di atas bak pasir yang di alas trepal plastik di atasnya dan dilapisi beberapa tikar plastik. Hampir dua tahun saya tinggal di rumah ini dan saya sangat bersyukur mendapatkan Ibu kos yang baik dan perhatian, tidak jarang saya dapat uluran sambal atau makanan. Walau saya jauh dari orang tua kehangatan keluarga ini sedikit merintang hati dan pikiran saya. Bahkan kalau hari libur dan ibu kos sedang musim panen, saya ikut pergi ke sawahnya bersama keluarga ini. Hingga suatu hari kebersamaan saya di rumah ini harus berakhir, sakit tipus yang mendera saya mengharuskan saya dirawat hampir 1 bulan di rumah sakit. Setelah keluar dari rumah sakit, kondisi saya belum sepenuhnya pulih dan tidak boleh bekerja agak berat sementara di  tempat ini setiap mandi atau berwudhu harus menimba air sumur yang dalamnya hampir 15 m lebih, orang tua saya memutuskan untuk memindahkan tempat kos saya ke dekat sekolah yang sudah tersedia air ledeng tentu dengan konpensasi lebih yang harus dibayar.

Tanpa terasa hampir tiga tahun saya sekolah disini lengkap dengan kisah dan ceritanya. Akahirnya sebuah tahapan baru sudah hampir saya selesaikan walaupun dengan hasil yang tidak terlalu memuaskan karena saya tidak termasuk anak yang menonjol dan berprestasi di sekolah. Namun lebih dari semua itu saya sangat menghargai dan menghormati apa yang diimpikan amak dan amak selalu bilang sekolah bukan untuk mencari kerja namun merubah pola pikir dan cara hidup orang. Selalu terngiang di benak saya perkataan amak, “walapun waang akan karajo di sawah juo tapi caro karajo waang nan sakola pasti babeda jo caro kajo urang nan dak sakola“, itu lah konsep belajar yang selalu ditanamkan amak ke kami ketika kami mulai pesimis dengan hasil belajar yang kami terima. Dan satu hal yang baru saya sadari akhir-akhir ini, bahwa benih tidak akan pernah bisa besar di persemaian, kalau mau tumbuh dengan baik harus dipindah ke tengah sawah. Ini adalah kutipan kata-kata buya Hamka dalam bukunya yang selalu saya ingat. Terima kasih amak atas motivasi dan perjuangan pantang menyerah dalam kondisi apapun.

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak berusaha untuk merubahnya….”

1190524322565709150613

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: